PENGOLAHAN LIMBAH/SAMPAH
- Pengertian
“Limbah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam pembuatan atau pemakaian barang yang rusak atau memiliki cacat dalam pembuatan manufaktur atau materi berkelebihan atau ditolak atau buangan”. (kamus istilah lingkungan, 1994).
Sinonim limbah adalah sampah. Ada beberapa pendapat yang mendefinisikan tentang sampah:
a. “Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktivitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis”. (Istilah Lingkungan untuk Manajemen, Ecolink, 1996)
b. “Sampah adalah sesuatu yang tidak berguna lagi, dibuang oleh pemiliknya atau pemakai semula” (Tanjung, Dr. M. Sc., 1982)
c. “Sampah adalah sumber daya yang tidak siap pakai”. (Radyastuti, W. Prof. Ir., 1996)
- Macam-macam Limbah
Berdasarkan asalanya, limbah padat dapat digolongkan sebagai :
· Limbah Organik
· Limbah Anorganik
Limbah organik terdiri dari bahan-bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang diambil dari alam atau dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan atau yang lain. Limbah ini dengan mudah diuraikan dalam proses alami. Limbah rumah tangga sebagian besar merupakan bahan organik. Termasuk limbah organik, misalnya dari dapur, sisa tepung, sayuran, kulit buah, dan daun.
Limbah anorganik berasal dari sumber daya alam tak terbarui seperti mineral dan minyak bumi, atau dari proses industri. Beberapa dari bahan ini tidak terdapat di alam seperti plastik dan alumunium. Sebagian zat anorganik secara keseluruhan tidak dapat diuraikan oleh alam, sedang sebagian lainnya hanya dapat diuraikan dalam waktu yang sangat lama. Limbah jenis ini pada tingkat rumah tangga, misalnya berupa botol, botol plastik, tas plastik, dan kaleng.
Kertas koran, dan karton merupakan perkecualian. Berdasarkan asalnya, kertas, koran, dan karton termasuk limbah organik. Tetapi kertas, koran, dan karton dapat diaur ulang seperti limbah anorganik lain (misalnya, gelas, kaleng, dan plastik).
Sumber Limbah
a. Limbah dari Pemukiman
Umumnya limbah rumah tangga berupa sisa pengolahan makanan, perlengkapan rumah tangga bekas, kertas, kardus, gelas, kain, sampah kebun/halaman, dan lain-lain.
b. Limbah dari Pertanian dan Perkebunan
Limbah dari kegiatan pertanian tergolong bahan organik, seperti jerami dan sejenisnya. Sebagian besar limbah yang dihasilkan selama musim panen dibakar atau dimanfaatkan untuk pupuk. Untuk limbah bahan kimia seperti pestisida dan pupuk buatan perlu perlakuan khusus agar tidak mencemari lingkungan. Limbah pertanian lainnya adalah lembaran plastik penutup tempat tumbuh-tumbuhan berfungsi untuk mengurangi penguapan dan penghambat pertumbuhan gulma namun plastik ini dapat didaur ulang.
c. Limbah dari Sisa Bangunan dan Konstruksi Gedung
Limbah yang berasal dari kegiatan pembangunan dan pemugaran ini biasa berupa bahan organik maupun anorganik. Limbah organik, misalnya : kayu, bambu, triplek. Limbah anorganik, misalnya : semen, pasir, spesi, batu bata, ubin, besi dan baja, kaca dan kaleng.
d. Limbah Perdagangan dan Perkantoran.
Limbah yang berasal daei daerah perdagangan seperti: toko, pasar tradisional, warung pasar swalayan ini terdiri dari kardus, pembungkus, kertas dan bahan organik termasuk limbah makanan dan restoran.
Limbah yang berasal dari lembaga pendidikan, kantor pemerintah dan swasta biasanya terdiri dari kertas, alat tulis menulis (pulpen, pensil, spidol, dan lain-lain), toner fotokopi, pita printer, kotak tinta printer, baterai, bahan kimia dari laboratorium, pita mesin ketik, klise film, komputer rusak, dan lain-lain. Baterai bekas dan limbah bahan kimia harus dikumpulkan secara terpisah dan harus memperoleh perlakuan khusus karena berbahaya dan beracun.
e. Limbah dari Industri
Limbah ini berasal dari seluruh rangkaian proses produksi (bahan-bahan kimia serpihan/potongan bahan), perlakuan dan pengemasan produk (kertas, kayu, plastik, kain/lap yang jenuh degan pelarut untuk pembersihan). Limbah industri berupa bahan kimia yang sering kali beracun memerlukan perlakuan khusu sebelum dibuang.
Ada beberapa limbah yang memerlukan penanganan khusus untuk menghindari bahaya yang akan ditimbulkannya. Limbah khusu ini antara lain:
a. Limbah dari Rumah Sakit
Limbah rumah sakit merupakan sampah biomedis, seperti sampah dari pembedahan, peralatan (misalnya pisau bedah yang dibuang), botol infus dan sejenisnya, serta obat-obatan (pil, obat bius, vitamin). Semua sampah ini mungkin terkontaminasi oleh bakteri dan sebagiannya beracun sehingga berbahaya bagi manusia dan makhluk lainnya.
Cara pencegahan dan penanganan limbah rumah sakit antara lain :
· Sampah rumah sakit perlu dipisahkan.
· Sampah rumah sakit harus dibakar di dalam sebuah inseminator milik rumah sakit..
· Sampah rumah sakit ditampung di sebuah kontainer dan selanjutnya dibakar di tempat pembakaran sampah.
· Sampah biomedis disterilkan terlebih dahulu sebelum dibuang ke landfill.
b. Akumulator Bekas
Baterai umumnya berasal dari sampah rumah tangga dan biasanya mengandung logam berat seperti raksa dan kadmium. Logam berat sangat berbahaya bagi kesehatan. Akumulator dengan asam sulfat atau senyawa timbal berpotensi menimbulkan bahaya bagi manusia. Baterai harus diperlakukan sebagai samah khusus. Saat ini di Indonesia, baterai kering hanya dapat disimpan di tempat kering sampai tersedia fasilitas pengolahan.
Jenis sampah khusus lainnya adalah :
· Bola lampu bekas;
· Pelarutan dan cat;
· Zat-zat kimia pembasmi hama dan penyakit tanaman seperti insektisida, pestisida.
· Sampah dari kegiatan pertambangan dan eksplorasi minyak;
· Zat-zat yang mudah meledak dalam suhu tinggi.
Efek limbah terhadap Manusia dan Lingkungan
a. Dampak terhadap Kesehatan
Lokasi dan pengelolaan limbah yang kurang memadai (pembuangan limbah yang tidak terkontrol) merupakan tempat yang cocok bagi beberapa organisme dan menarik bagi berbagai binatang seperti lalat dan anjing yang dapat menjangkitkan penyakit. Potensi bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah sebagai berikut:
· Penyakit diare, kolera, tifus menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari sampah dengan pengelolaan tidak tepat dapat bercampur air minum. Penyakit demam berdarah (haemorhagic fever) dapat juga meningkat dengan cepat di daerah yang pengelolaan sampahnya kurang memadai.
· Penyakit jamur dapat juga menyebar (misalnya jamur kulit).
· Penyakit yang dapat menyebar melalui rantai makanan. Salah satu contohnya adalah suatu penyakit yang dijangkitkan oleh cacing pita (Taenia). Cacing ini sebelumnya masuk ke dalam pencernaan binatang ternak melalui makanannya yang berupa sisa makanan/sampah.
· Limbah beracun. Telah dilaporkan bahwa di Jepang kira-kira 40.000 orang meninggal dunia akibat mengkonsumsi ikan yang telah terkontaminasi oleh raksa (Hg). Raksa ini berasal dari limbah yang dibuang ke laut oleh pabrik yang memproduksi baterai dan akumulator.
b. Dampak terhadap lingkungan
Cairan rembesan limbah yang masuk ke dalam drainase atau sungai akan mencemari air. Berbagai organisme termasyuk ikan dapat mati sehingga beberapa spesies akan lenyap, hal ini mengakibatkan berubahnya ekosistem perairan biologis.
Penguraian limbah yang dibuang ke dalam air akan menghasilkan asam organik dan gas cair organik, seperti metana. Selain berbau kurang sedap, gas ini dalam konsentrasi tinggi dapat meledak.
- Sumber daya Alam.
Sumber daya alam meliputi semua biomassa yaitu keseluruhan makhluk, baik yang hidup maupun yang mati (hewan dan tumbuhan), juga benda mati seperti air, tanah, dan batuan, serta gas-gas di atmosfer. Pemanfaatan sumber daya alam ini mencakup antara lain: konsumsi ikan, air, dan kayu bakar secara langsung. secara tidak langsung, misalnya pengolahan batuan (bijih) menjadi bahan kayu untuk memproduksi besi, tembaga. Sering kali sumber daya alam dapat dimanfaatkan secara multiguna.
Sumber daya alam dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
· Sumber daya alam terbarui
· Sumber daya alam tak terbarui
a. Sumber Daya Alam Tebarui
- Sumber daya alam terbaharui adalah sumber daya yang diproduksi secara alami atau dengan bantuan manusia (pertanian, hutan dan lain-lain) atau dapat ditumbuhkan kembaliu dalam waktu relatif singkat/endek (bulan, tahun)
- Jika eksploitasi dilakukan dengan pola mendukung (seimbangantara input dan output) sumber daya ini tidak terbatas ketersediannya, misalnya penanaman secara berkelanjutan dalam pertanian atau penghutanan kembali.
Tergolong dalam sumber daya alam ini adalah :
· Hasil hutan (kayu, bambu).
· Hasil pertanian dan perkebunan (umbi-umbian, palawija, beras, sayur-sayuran, buah-buahan, minyak sayur, kapas, gula, dan lain-lain.
· Hasil perikanan (ikan, udang, dan lain-lain).
· Hasil peternakan (daging, susu, wol, kulit dan lain-lain).
b. Sumber Daya Alam Tak Terbarui
Sumber daya alam tak terbarui adalah sumber daya alam yang persediaannya terbatas dan tidak tersedia dalam jangka lama. Dalam beberapa kasus, karena keberadaannya yang melimpah membuatnya dieksploitasi secara tidak terbatas, tanpa memperhatikan kepentingan generasi mendatang dan dampak eksploitasi terhadap lingkunga.
Sebenarnya eksploitasi terhadap sumber daya ini adalah terbatas, baik untuk jangka waktu pendek maupun lama, tanpa ada sumber lain dan tidak dapat ditumbuhkan kembali, meskipun beberapa jenis dari sumber ini dapat diperbaharui tetapi dalam waktu jutaan tahun lamanya.
Termasuk golongan ini adalah : minyak bumi, uranium, bijih besi, batu bara, bauksit, dan mineral-mineral lainnya.
- Limbah di alam dan di Industri
a. Limbah di Alam
Secara alami tumbuh-tumbuhan mengatur sendiri kesuburan tanah di bawah tempat tumbuhnya. Dedaunan tua yang jatuh lama-kelamaan akan membusuk dan terurai. Setelah mineralnya bebas dan bercapur tanah, mineral ini akan diserap kembali oleh akar tumbuhan. Dengan cara serupa, senyawa karbon dari zat organik akan dilepas ke udara dalam bentuk CO2. Selanjutnya, daun tumbuhan akan menyerap kembali proses fotosintesis. Siklus alami ini adalah suatu proses yang berlangsungnya terus menerus. sampah/limbah hasil metabolisme dari hewan dan tumbuhan juga akan mengalami siklus yang serupa.
b. Produksi di Industri dan Limbah
Di alam semua zat organik dapat diadur ulang, dimana beberapa spesies tertentu mengkonsumsi limbah yang dihasilkan oleh organisme lain. Contohnya, Hyena memakan bangkai binatang, jamur menguraikan dedaunan, dan lain-lain. Sebaliknya, prosesa di industri sangat tidak efektif. Orang membuat produk yang secara tidak langsung dapat menghasilkan sejumlah limbah pada setiap tahapan proses di samping produk itu sendiri. Beberapa contoh mengenai produk atau proses sampah yang dihasilkan:
- Membuat besi dari bijih besi → kerak besi sebagai sampah produksi.
- Kaca dipotong untuk jendela dengan ukuran tertentu → limbah potongan kaca
- Membuat bingkai jendela dari pelat alumunium → limbah potongan alumunium.
- Kertas cetak dipotong sesuai ukuran tertentu → limbah kertas.
c. Peredaran Produk dari Industi ke Konsumen
Produk pabrik telah melalui beberapa tahap produksi, dari proses awal hingga pengerjaan akhir, meliputi kontrol mutu dan pengemasan, yang selanjutnya diangkut untuk diperdagangkan, dan terakhir sampai ke konsumen. Pada setiap tahap yang dilalui oleh produk ini dapat timbul sampah. roses industri ini juga memberikan dampak lain terhadap lingkungan, baik itu mengenai energi, air, maupun udara.
Oleh karena alasan ekonomi dan ekologi, industri harus terus menerus mencari jalan untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi sampah yang dihasilkan di pabriknya. Jika mungkin, sampah produksi didaur ulang untuk dimanfaatkan kembali dalam proses produksi (contohnya di pabrik botol dari gelas: pecahan gelas dicairkan lagi), bahan kimia digunakan lagi dan lagi di dalam suatu proses tertutup. hal ini dikenal sebagai “teknologi bersih”.
d. Bentuk pengemasan
Kemasan menduduki posisi dominan dalam menentukan nilai jual suatu produk. walaupun fungsi utama dari kemasan adalah untuk melindungi produk dari kerusakan, tetapi transportasi secara modern dan penyimpanan barang membuat kemasan menjadi lebih penting. Ditambah lagi dengan sikap konsumen yang lebih suka dengan kemasan yang menarik dan berwarna-warni.
Kemasan untuk alasan perlindungan, pengangkutan, penyimpanan, dan penjualan dengan bahan misalnya dari karton, kayu, plastik, kertas, dan kaleng, di satu sisi merupakan sumber sampah yang besar.
1) Pengemasan Tradisional
Pada masa lampau pembungkus atau kemasan terbuat dari bahan-bahan alami yang dapat didaur ulang oleh alam, contohnya:
· Daun pisang dipakai untuk membungkus nasi atau jenis makanan lainnya.
· Daun pohon jati digunakan untuk membungkus ikan ataupun daging.
· Daun pandan digunakan untuk membungkus makanan tradisional yang terbuat dari gandum.
· Bambu dan jenis kayu lainnya dapat digunakan untuk mengemas barang-barang yang akan dibawa kepasar atau ke kota.
Kelebihan dari pengemasan tradisional adalah :
· Bahan berasal dari sumber daya alam terbarui, sehingga mudah tersedia.
· Kalau di buang ke alam dapat diuraikan oleh mikroorganisme, bahkan menjadi pupuk untuk makhluk hidup lain
· Ekonomis dan terjangkau oleh masyarakat.
Kekurangan dari pengemasan tradisional adalah pada tidak sempurnanya perlindungan pada produk sehingga tidak terjamin kualias dan kuantitasnua untuk jangka waktu lama maupun keamanan produk selama pengangkutan jarak jauh.
2) Pengemasan Modern
Dengan kemajuan teknologi yang serba canggih, kemasan tradisional sudah mulai ditinggalkan. Daun-daunan sudah diganti dengan kaleng yang dilapisi timah, kaleng alumunium, plastik, kertas, stirofoam atau kombinasi dari berbagai bahan sintetis. Disamping mempunyai kelebihan, kemasan modern juga mempunyai kekurangan.
Kelebihan Pengemasan Modern.
· Perlindungan sempurna terhadap produk dari sinar matahari, panas, debu/kotoran, insekta, dan lain-lain sehingga sangat higienis dan terjaga kualitasnya untuk jangka waktu lama.
· Dapat dituliskan berbagai macam informasi mengenai produk, seperti: komposisi, merek, nama produk, produsen, kode produksi, dan tanggal kadaluarsa.
· Memudahkan pengangkutan dan penyimpanan.
Kekurangan Pengemasan Modern
· Bahan baku kebanyakan berasal dari sumber daya alam tidak terbarui.
· Untuk memproduksinya memerlukan banyak energi.
· Biayanya mahal, baik selama proses maupun setelah jadi barang.
· Digunakan sesaat, kemudian dibuang sebagai sampah.
· Tidak dapat atau sulit diuraikan oleh mikroorganisme pengurai.
· Beberapa diantaranya mengandung zat berbahaya dan beracun.
- Cara-cara Pengolahan Limbah.
1) Sampah Organik
a. Makanan Ternak
Di beberapa negara, sampah organik yang berasal dari restoran biasanya dikumpulkan oleh peternak dan digunakan sebagai makanan binatang ternak, misalnya babi, unggas.
Di Indonesia, sampah organik dari pasar yang berupa sayur-sayuran (kobis, slada air, sawi), daun pisang, dan sisa makanan biasanya diambil untuk makanan kelinci, kambing, dan juga ayam atau itik. Hal ini sangat bermanfaat sebab selain mengurangi jumlah sampah juga mengurangi biaya peternakan. Namun, sampah organik ini harus dibersihkan dan dipilah terlebih dahulu sebelum dikonsumsi oleh ternak. Sebab akan bermasalah jika sampah organik tadi bercampur dengan sampah-sampah yang mengandung logam-logam berat yang dapat terakumulasi di dalam tubuh ternak tersebut.
b. Komposting
Pengkomposan merupakan upaya pengolahan sampah, segaligus usaha mendapatkan bahan-bahan kompos yang sangat menyuburkan tanah. Sistem ini mempunyai prinsip dasar mengurangi atau mendegradasi bahan-bahan organik secara terkontrol menjadi bahan-bahan anorganik dengan memanfaatkan aktivitas mikroorganisme. Mikroorganisme yang berperan dalam pengolahan ini dapat berupa bakteri, jamur, khamir, juga insekta dan cacing. Agar pertumbuhan mikroorganisme optimum, maka diperlukan beberapa kondisi, diantaranya campuran yang seimbang dari berbagai komponen karbon dan nitrogen, suhu, kelembaban udara (tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering), dan cukup kandungan oksigen (aerasi baik).
Sistem pengkomposan ini mempunyai beberapa keuntungan, antara lain:
· Merupakan jenis pupuk yang ekologis dan tidak merusak lingkungan.
· Bahan yang dipakai tersedia, tidak perlu membeli.
· Masyarakat dapat membuatnya sendiri, tidak memerlukan peralatan dan instalasi yang mahal.
· Unsur hara dalam pupuk kompos ini bertahan lama jika dibanding dengan pupuk buatan.
c. Biogas
Para petani selalu mencari jalan untuk meningkatkan taraf hidupnya. salah satu cara peningkatan taraf hidup ialah dengan cara membuat bahan bakar untuk memasak. Dewasa ini banyak petani membuat bahan bakar biogas berskala kecil di rumah. Biogas adalah gas-gas yang dapat digunakan sebagai bahan bakar yang dihasilkan dari proses pembusukan sampah organik atau campuran dari keduanya. secara garis besar, biogas dapat dibuat dengan cara mencapur sampah-sampah organik dengan air kemudian dimasukkan ke dalam tempat yang kedap udara. Selanjutnya dibiarkan selama kurang lebih 2 (dua) minggu.
Sampah yang dibuat biogas ini mempunyai kelebihan antara lain:
· Mengurangi jumlah sampah.
· Menghemat energi dan merupakan sumber energi yang tidak merusak lingkungan.
· Nyala api bahan bakar biogas ini terang/bersih, tidak berasap seperti arang kayu atau kayu bakar. Dengan menggunakan biogas, dapur serta makanan tetap bersih.
· Residu dari biogas dapat dimanfaatkan untuk pupuk kandang.
2) Sampah Anorganik
Sampah anorganik seperti botol, kertas, plastik dan kaleng, sebelum dibuang ke TPA sebaiknya dipilah terlebih dahulu. Karena dari jenis sampah ini masih ada kemungkinan untuk dimanfaatkan ulang maupun untuk didaur ulang.
a. Dijual ke Pasar Loak/Dirombeng untuk Bahan Baku
Sisi lain dari pemanfaatan sampah anorganik, seperti kertas bekas, koran bekas, majalah bekas, botol bekas, ban nekas, radio tua, TV tua, dan sepeda usang, adalah dijual ke pasar loak. Atau jika enggan pergi ke pasar loak, juga dapat memanggil tukan loak yang biasa membeli barang-barang bekas ke rumah-rumah. Cara lain dapat juga di jual ke tetangga ataupun teman. Dengan demikian, sudah ada usaha mengurangi jumlah sampah yang ada. Cobalah untuk mengumpulkan barang-barang bekas kemudian dijual, pendapatan rumah tangga akan bertambah.
b. Daur Ulang
Berbicara mengenai proses daur ulang, ada baiknya apabila mengetahui jenis sampah yang dapat didaur ulang.
Sampah-sampah yang dapat di daur ulang, antara lain:
· Sampah plastik.
· Sampah logam
· Sampah kertas
· Sampah kaca.
Sampah lain yang sekiranya tidak dapat didaur ulang, hendaknya dibuang ke landfill atau tempat pembakaran (insinerator). Salah satu contoh proses daur ulang dapat dilihat pada gambar di halaman berikut mengenai daur ulang kertas. Gambar tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
Kertas bekas yang dikumpulkan secara terpisah diangkut ke tempat daur ulang kertas, umumnya ke pabrik kertas atau karton. Barang-barang yang dapat mengganggu jalannya proses daur ulang (seperti plastik) dipisahkan. Kertas digolongkan menjadi beberapa kualitas yang berbeda. kemudian kertas dicampur dengan air, dipanaskan dan dibuat pulp. Residu tinta dipisahkan untuk meningkatkan kualitas. Akhirnya dihasilkan kertas daur ulang. Setelah dipotong dalam ukuran tertentu dan dikemas, kertas akan didistribusikan lagi ke konsumen, demikian seterusnya.
satu hal yang patut diketahui dari proses ini adalah kertas bekas yang bersih akan menghasilkan kertas daur ulang dengan mutu baik. Karena itu sangat penting untuk memisahkan kertas bekas sedini mungkin belum tercampur dengan sampah lain yang sekiranya dapat mengotorinya.
c. Sanitary Landfill
Ini merupakan salah satu metode pengolahan sampah terkontrol dengan sistem sanitasi yang baik. Sampah dibuang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Kemudian sampah dipadatkan dengan traktor dan selanjutnya ditutup tanah. Cara ini akan menghilangkan polusi udara. Pada bagian dasar tempat sampah tersebut dilengkapi dengan sistem saluran leachate yang berfungsi sebagai saluran limbah cair sampah yang harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke sungai atau ke lingkungan. Di sanitary landfill tersebut juga dipasang pipa gas untuk mengalirkan gas hasil aktivitas penguraian sampah. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam sanitary landfill, yaitu :
· Semua lanfill adalah warisan bagi generasi mendatang.
· Memerlukan lahan yang luas.
· Penyediaan dan pemilihan lokasi pembuangan harus memperhatikan dampak lingkungan.
· Aspek sosial harus mendapat perhatian.
· Harus dipersiapkan instalasi drainase dan sistem pengumpulan gas.
· Kebocoran ke dalam sumber air tidak dapat ditolerir (kontaminasi dengan zat-zat beracun)
· Memerlukan pemantauan yang terus menerus.
d. Pembakaran
sampah padat dibakar di dalam insinerator. Hasil pembakaran adalah gas dan residu pembakaran. Penurunan volume sampah padat hasil pembakaran dapat mencapai 70%. Cara ini lebih relatif mahal dibanding dengan sanitary lanfill, yaitu sekitar 3 x lipatnya.
Kelebihan sistem pembakaran ini adalah :
· Membutuhkan lahan yang relatif kecil dibanding sanitary landfill.
· Dapat dibangun di dekat lokasi industri.
· Residu hasil pembakaran relatif stabil dan hampir semuanya bersifat anorganik.
· Dapat digunakan sebagai sumber energi, baik untuk pembangkit uap, air panas, listrik, dan pencairan logam.
Kekurangannya terletak pada mahalnya investasi, tenaga kerja, biaya erbaikan dan pemeliharaan, serta masih membuang residu, menghasilkan gas.
Secara umum proses pembakaran di dalam insinerator adalah :
· Sampah yang dapat dibakar dimasukkan di dalam penyimpan atau penyuplai.
· Berikutnya, sampah diatur sehingga dapat dimanfaatkan sebagai penutup sampah pada lanfill.
· Sedangkan hasil berupa gas akan dialirkan melalui cerobong yang dilengkapi dengan scruber atau ditampung untuk dimanfaatkan sebagai pembangkit energi.
|